PT. Kertas Padalarang, Kebanggaan yang Terlupakan Part 1

8 03 2011

Minggu ini (6 Maret 2011), saya berkesempatan kembali bergabung dengan teman-teman dari Komunitas Aleut menjelajah sejarah di Bandung dan sekitarnya. Kali ini di sepakati point de rendevouz di Stasiun KA Bandung yang menghadap ke Jl. Kebon Kawung. Setelah melahap sarapan pagi lontong padang di Simpang Dago saya segera menemui teman yang sudah dari dulu pengen ikutan aleut tapi baru kesampaian sekarang ,Rony Saputra. Ada dua pilihan kalo mau ke stasiun dari Simpang Dago, naik angkot Stasiun – Dago turun di pintu masuk yang kecil atau Caringin – Sadang Serang turun di pintu masuk besar. Berhubung kami berdua perantau yang tidak hapal yang mana Stasiun kebon Kawung itu, jadilah kami nanya sama tukang parkir. Dengan lugas dan tegas beliau bilang,’ naek Caringin aja dek’. Oke deh pak, hatur tengkyu dan kami meluncur dengan angkot biru tersebut. Saya sedikit cemas sebenarnya karena wajtu udah jam setengah 8 lebih sedangkan janjiannya jam setengah 8 teng. Segera sms Indra Pratama, koordinatornya aleut, setelah dapet lampu hijau dari Indra buat ‘santei aja bro’ hati sedikit tenang. Setelah 10 menit di angkot, kami sampai di depan gerbang tujuan dan waktu menunjukkan 7.45. Sambil celingak-celinguk, 2 pemuda kasep ini mencari para pegiat aleut dan ternyata kenyataan emang pahit….belum pada ngumpul anak-anak. Selidik punya selidik ternyata kereta ke Padalarang berangkat jam 9.15, tau gitu gak usah buru-buru. Emang kalo udah kebiasaan tepat waktu gini susah ngilanginnya. Eh lupa, mau ngapain ke Padalarang ya??? Alah…ikut aja dulu ya….

Jam 8an para pegiat mulai banyak berdatangan dan segera dikoordinir membeli tiket kereta. Cukup dengan 5ribu rupiah Anda bisa sampai Padalarang dalam 20 menit. Berhubung masih jam 8an dimulailah acara perkenalan di ruang tunggu stasiun. Sebagaimana khasnya Komunitas Aleut, perkenalan selalu di penuhi tawa segar, pegiat baru dan paparazzi (Mbak Ayu ‘Kuke’ Wulandari, Kang Yandhi Dephol, Kang Nara Wisesa, Teh Yanstri, Bedu dll). Jadi seneng nih di poto hehehhee…..

Ruang Tunggu Stasiun Bandung

Ruang Tunggu Stasiun Bandung (Courtesy of Ayu 'Kuke' Wulandari)

Waktu untuk boarding akhirnya tiba. Kesan pertama saya memasuki kereta ‘Wah gak kalah ama subway di Eropa nih’. Tapi saya terpaksa menarik kata-kata saya kembali setelah pedagang asongan lewat (doh). Harus saya akui kalo saya sangat excited karena udah lama gak naek kereta. Duduk di dekat jendela saya masih bisa lihat sawah dan rumah-rumah yang hanya berjarak 1 meter dari kereta (syerem…). Kembali perjalanan diisi oleh badut-badut Aleut which is everyone hahahahahaha (just kidding guys) membuat 20 menit berlalu dengan cepat. Mendarat di Stasiun Padalarang kita bisa tau kalo stasiunnya jadul juga dan relatif kecil mengingatkan saya dengan Stasiun Jatinegara yang juga kecil. Panitia penyambutan ternyata telah siap dengan Kang Oi sebagai kepala rombongan. Melangkah keluar stasiun kami berhenti sejenak untuk mendengarkan cerita dan ilustrasi dari Pak Guru Erik mengenai Stasiun, PT. Kertas Padalarang dan Pasar Padalarang. Diceritakan bahwa Pasar Padalarang yang terletak tepat di depan stasiun juga merupakan pasar lama terlihat dari gambar ilustrasi yang disediakan. Setelah puas dengan penerangan dari Indra dan panas terik kami berjalan kaki menuju lokasi berikutnya yaitu Kantor PT. Kertas Padalarang.

Berjalan selama 10 menit di bawah terik matahari pagi menjelang siang cukup menguras keringat saya. Untung saja kami telah sampai tujuan yaitu Kantor PT. Kertas Padalarang. Keringat saya sedikit kering melihat senyum dari para penyambut kami yaitu pejabat PT. Kertas Padalarang: Pak Joko, Pak Eman dan Kang Andri. Dengan semangat bapak-bapak ini bercerita bahwa alasan didirikannya pabrik kertas di sini karena daerah ini memiliki sumber air dengan debit yang konstan baik di musim hujan maupun kemarau. Ternyata para kompeni membangun penuh perjitungan juga, karena air adalah komoditi penting dalam pembuatan kertas. Dahulu debit airnya 18 liter/detik namun sekarang kebutuhannya 80 liter per detik oleh karena itu PT. Kertas Padalarang mengambil sumber air yang baru berjarak 5 km dari kantor di Mata Air Cimeta. Kita juga dapat melihat tempat penampungan air zaman dahulu di salah satu sudut kantor namun sudah tidak dipergunakan lagi karena sering bocor.

Pak Eman, Pak Joko dan pegiat Aleut di halaman kantor PT. Kertas Padalarang (Courtesy of Nara Wisesa)

 

Penampungan air yang sudah tidak terpakai, indikator penuhnya air bila panah menunjuk ke bawah (Courtesy of Ayu 'Kuke' Wulandari)

Sebelum lanjut, saya ingin bercerita sedikit mengenai sejarah PT. Kertas Padalarang ini. Berdiri tahun 1922 dengan Direktur Ir. CWJ Hoyer, NV. Papier Fabrik Padalarang merupakan pabrik kertas pertama di nusantara. Perusahaan ini merupakan cabang dari NV. Papier Fabrik Nijmegen dari Belanda. Perusahaan ini cukup berkembang sehingga pada tahun 1935 didirikan cabangnya di Leces, Probolinggo Jawa Timur. Perubahan terjadi ketika Indonesia merdeka, tahun 1958 dilakukan nasionalisasi perusahaan peninggalan Belanda termasuk PT. Kertas Padalarang. Tahun 1960 nama perusahaan resmi menjadi Perusahaan Negara (PN) Kertas Padalarang dan cabang Leces dilepas jadi badan usaha mandiri dengan nama PN Kertas Leces. Oya, kalo teman-teman ke Padalarang dan bertanya ke penduduk setempat, “Punten a’, PT. Kertas Padalarang dimana ya??” mungkin mereka sedikit bingung karena masyarakat setempat lebih mengenal sebutan PN untuk PT. Kertas Padalarang. Jadi nanyanya gini, ” Punten a, jalan ke PN mana ya??” itu mah pasti langsung di anter hihihihih….Walaupun dahulunya sama tapi sekarang PT. Kertas Padalarang dan PT. Kertas Leces beda nasib. Dengan kurang lebih 2000 karyawan, PT. Kertas Leces sudah 6 bulan berhenti beroperasi berbeda dengan PT. Kertas Padalarang yang masih mampu bertahan dan mempekerjakan 350 karyawan. Mungkin kita hanya bisa berkata, “Kasian ya….” PT. Kertas Padalarang sekarang hanya melayani produksi kertas sekuriti macam sertifikat, ijazah, cukai rokok dari Pemerintah tanpa melayani klien swasta dan juga melayani produksi kertas untuk pabrik UKM dan usaha rumahan. Sekarang PT. Kertas Padalarang berada di bawah Kementerian BUMN namun ………apa hayoooo….tunggu Part 2 ya


Tindakan

Information

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.