PT. Kertas Padalarang, Kebanggaan yang Terlupakan Part 2

8 03 2011

Oya, kalo teman-teman ke Padalarang dan bertanya ke penduduk setempat, “Punten a’, PT. Kertas Padalarang dimana ya??” mungkin mereka sedikit bingung karena masyarakat setempat lebih mengenal sebutan PN untuk PT. Kertas Padalarang. Jadi nanyanya gini, ” Punten a, jalan ke PN mana ya??” itu mah pasti langsung di anter hihihihih….Walaupun dahulunya sama tapi sekarang PT. Kertas Padalarang dan PT. Kertas Leces beda nasib. Dengan kurang lebih 2000 karyawan, PT. Kertas Leces sudah 6 bulan berhenti beroperasi berbeda dengan PT. Kertas Padalarang yang masih mampu bertahan dan mempekerjakan 350 karyawan. Mungkin kita hanya bisa berkata, “Kasian ya….” PT. Kertas Padalarang sekarang hanya melayani produksi kertas sekuriti macam sertifikat, ijazah, cukai rokok dari Pemerintah tanpa melayani klien swasta dan juga melayani produksi kertas untuk pabrik UKM dan usaha rumahan. Sekarang PT. Kertas Padalarang berada di bawah Kementerian BUMN namun jarang di perhatikan oleh pemerintah.

Setelah menghabiskan waktu dan mendengar cerita dari bapak-bapak PT. Kertas Padalarang, rombongan berangkat menuju pusat kegiatan sebenarnya yaitu pabrik. Berjalan di pinggir jalan raya tanpa trotoar kami rasakan memang tidak nyaman tapi untunglah hanya sementara karena segera saja kami memasuki pekarangan suatu rumah tua. Dari penjelasan ternyata ini adalah residennya direktur NV. Papier Fabrik Padalarang yang sekarang sudah kosong dan tidak terawat. Suasana yang teduh membuat rombongan betah melepas lelah sementara di sini sambil mendengarkan cerita, poto-poto pre-wed atau mengamati pohon beringin beranak kelapa. Ya, percaya atau tidak dari dalam pohon beringin tumbuh pohon kelapa. Subhanallah….

 

Rumah residen dengan pohon unik di sebelahnya (Courtesy of Yandhi Dephol)

Saya sudah puas duduk di antara pohon karena jujur pegel banget saat tak lama rombongan bergerak menuju lokasi pabrik yang ternyata tepat di belakang residen direktur. Ternyata kantor, residen dan pabrik masih dalam satu komplek alias berdekatan. Melintasi sungai (atau selokan yah) kami sampai di pintu masuk. Menurut Pak Joko, dulu bahan baku di bawa dari stasiun ke pabrik menggunakan lori. Sekarang bekas rel lori tidak terlihat karena telah di timbun jalan raya dan tanah. Setelah rombongan tertib kami bersiap memasuki lokasi pabrik dengan syarat semua barang harus dititipkan termasuk kamera dan tidak boleh mengambil gambar alias motret. Mendengar briefing dari bapak sekuriti ini saya tau ada pegiat yang dengkulnya langsung lemes hahahahahaha. Segera kami memasuki lokasi pabrik dengan ringan karena tidak bawa tentengan.

 

Gerbang masuk pabrik (Courtesy of Yandhi Dephol)

Foto Keluarga (Courtesy of Yandhi Dephol)

 

 

Mirip hanggar pesawat, begitulah kesan pertama saya karena memang cukup besar. Di lokasi pertama kami bisa melihat pulp padat, conveyor belt yang terhubung dengan suatu bak besar yang tembus ke lantai bawah tanah dan besar sekali. Ternyata di sini pulp di jadikan bubur. Saya sentuh pulp padat yang berupa lembaran besar, keras dengan tekstur kasar. Kalo kata saya sih mirip kertas karton. Oya, mesinnya buatan Jepang seingat saya Yamatake dan sudah ada dari tahun 1975 dan belum pernah diremajakan. Pindah ke ruang berikutnya dan naik satu lantai saya melihat pipa, air dan mesin penggulung kertas mungkin ya. Proses apa yang terjadi di sini saudara-saudara?? Saya tidak tau karena terlalu excited jadi tidak mendengarkan penjelasannya. Maap kan……

Turun satu lantai, kami sampai di ruang yang luas saya tidak tau fungsinya apa cuma yang jelas di sini ada timbangan yang besar sekali dan injakannya menyatu dengan lantai. Saya tidak berani mencoba karena timbangan ini sangat akurat :) )

Nah, begitulah sedikit tur singkat kami di pabrik tapi perjalanan belum berakhir. Setelah mengambil tentengan kami pamit kepada bapak sekuriti. Di pintu pabrik kami “foto keluarga” dan melanjutkan perjalanan yang saya tidak tau tujuannya. Ikut we lah!!! Melintasi lapangan bola yang jauh sekali kualitasnya dibandingkan lapangan Eropa, pegiat aleut yang dahaga mencegat mang-mang jualan es keliling dan warung terdekat. Segerrrrrr….yuk ah jalan lagi!!!!!Memasuki gang sempit pemukiman penduduk rombongan keluar di area persawahan. Akhirnya lihat sawah juga setelah sekian lama. Tetap tidak tau tujuan saya ikuti saja kemana para pegiat melangkah, menyusuri pematang, poto di pematang sawah hingga saya terjerembab dengan sukses di pematang untung saja tidak ada yang tau dan pematangnya tidak becek. Sakitnya tidak seberapa tapi malunya itu lho…..Memasuki akhir perjalanan kami menembus pintu kecil dan keluar di pekarangan suatu SLB. Ya Anda tidak salah baca…Sekolah Luar Biasa ini dikelola oleh istrinya Pak Eman, Bu Eman. dahulunya merupakan SLB pertama di Bandung Barat. Di pekarangan ini ternyata Pak Eman dan keluarga telah mempersiapkan jamuan untuk kami. Saya tidak menyangka dan terharu. Untuk menghargai jamuan ini tanpa malu-malu saya segera menyerbu rujak dan ubi goreng yang dihidangkan. SO DELICIOUS….

Berfoto di sawah (Courtesy of Nara Wisesa)

Jamuan yahud (Courtesy of Nara Wisesa)

 

 

Sambil ngemil semua pegiat bergiliran berbagi pengalaman selama ngaleut kali ini. Di sini kita bisa melihat sudut pandang yang berbeda dari setiap orang terhadap satu objek, mencerahkan dan menambah pengetahuan. Setelah menghabiskan semangkuk besar rujak dan berpotong-potong singkong goreng, rombongan dikejutkan oleh jamuan. Nasi dan saudara-saudaranya menunggu untuk dicicipi. Mimpi apa saya semalam hahahaha…SIKAAAAAAAAAAAAAATTTTTTTTTTTTTTTT!!!!!

Hadueh perut kenyang banget….nasi ikan goreng tahu tempe lalapan plus sambel memang tiada duanya sore itu. Makan dengan lahap dan poto keluarga mengakhiri acara ramah tamah ini. Setelah pamit kepada tuan rumah kami berangkat pulang diiringi awan hitam. Dan benar saja, tak berapa langkah dari SLB hujan turun dengan deras memaksa kami berteduh. Basah..basah..basah seluruh tubuh….Hujan berhenti rombongan kembali bergerak dan lagi-lagi saya tak tau tujuannya, ikut we lah!!!!Setelah jalan cukup jauh dan capek 15 menit mungkin kami sampai di depan Kota Baru Parahyangan. Tau-tau angkot udah nyamperin dan memang kami booking angkot buat ke Bandung. 35 orang dimasukin 2 angkot jadi deh ada yang terpaksa duduk di lantai. Kali ini angkot kita memasuki tol dan sial bagi angkot yang tidak saya tumpangi karena bensinnya seep…Kedua angkot pun berhenti di jalan tol dan para penumpang yang jarang-jarang berhenti di tol langsung jadi narsis termasuk saya. Cukup dengan 1/3 botol Aqua bensin, angkot tersebut kembali ngebut ke Bandung. Ternyata di sinilah perpisahan kami semua, saya memilih turun di Cicendo meninggalkan teman-teman yang lain sambil membawa banyak cerita di benak dan rasa letih….

Foto keluarga sebelum pulang (Courtesy of Ayu 'Kuke' Wulandari)

Sampai bertemu di ngaleut berikutnya kawan-kawan…

Belum ke Bandung kalo belum ngaleut……

 

Sumber :

- Perjalanan Aleut 6 Maret 2011

- http://pt-kertas-padalarang.com

- http://www.kertasleces.co.id

- Paparazzi Aleut


Tindakan

Information

2 tanggapan

8 03 2011
Supernadya

Envy…
Pai ciek haa..

9 03 2011
momonchubby

ikut aja nad…liat update rencana perjalanan tiap minggu di statusnya komunitas aleut di FB
everyone’s invited……

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.